Setelah beberapa tahun sorotan olahraga raket tertuju pada padel, tenis pelan-pelan ikut mencuri perhatian lagi! Apakah ini sekadar kesan, atau ada datanya? Simak artikel berikut!
Sinyal dari Indonesia
- Komunitas makin banyak: klub dan komunitas tenis bermunculan, dan lapangan di kota besar terlihat lebh ramai oleh pemain dari berbagai usia.
- Tenis jadi gaya hidup: bagi banyak anak muda urban, tenis kini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga wellness, networking, dan ruang sosial baru.
- Event bermunculan: dari turnamen antarkomunitas yang diikuti puluhan komunitas, turnamen yang digelar brand di Jakarta, hingga festival tenis di Medan, tenis dikemas lebih santai dan inklusif.
Sinyal dari Dunia
Laporan Federasi Tenis Internasional (ITF) mencatat jumlah pemain tenis global mendekati 106 juta orang di 199 negara, naik dari sekitar 84 juta pada 2019. Sejumlah lembaga riset juga memproyeksikan pasar tenis global terus tumbuh hingga akhir dekade ini, meski angka antar-lembaga berbeda-beda sehingga lebih tepat dibaca sebagai arah tren.
Tapi, Jangan Terlalu Gembira
Tidak semua pengamat sepakat bahwa pertumbuhan ini merata. Ada pandangan kritis bahwa di sejumlah negara jumlah pemain yang sering bermain, terutama pemain muda, justru menurun. Artinya, kebangkitan tenis kemungkinan lebih kuat di pasar urban tertentu, termasuk sebagian kota di Asia, dan belum tentu terjadi di mana-mana.
Selain itu, tenis lebih sulit dikuasi di awal dibanding padel. Karena itu, pertumbuhannya cenderung bertahap dan ditopang komunitas, bukan meledak mendadak.
Apa Artinya bagi Pemilik Lapangan dan Kontraktor
- Lapangan tenis lama berpotensi dilirik lagi lewat renovasi agar lebih nyaman dan estetik.
- Venue multi-sport yang menggabungkan tenis dan padel bisa menjangkau lebih banyak segmen.
- Paket komunitas dan event bisa jadi sumber pemasukan tambahan di luar sewa per-jam.
- Kota di luar Jakarta mulai menunjukkan antusiasme, sehingga peluangnya tidak hanya di ibu kota.
Tenis belum tentu viral seperti padel, tapi tanda-tanda kebangkitannya nyata, terutama lewat komunitas dan gaya hidup. Bagi pelaku usaha bisnis lapangan, pendekatan paling bijak adalah membaca momentum ini sebagai pertumbuhan bertahap yang layak dimanfaatkan, bukan ledakan sesaat.

